SEPULUH MENIT PERTAMA
Tiba-tiba kedua sisi bahuku dipegang dan terasa ditekan padahal aku sedang konsentrasi nyetir sepeda motor, cuaca lagi hujan deras. aku tetap berhati-hati mengendalikan motor ini seraya bertanya dalam hati kenapa rasanya bahuku berat sekali ditekannya. Kalian tahu? Dia berdiri di atas pedal motor sambil memegang bahuku.
“lagi apa sih? Nanti kalau aku hilang konsen terus kita jatuh gimana?” tegasku dengan sedikit kesal.
“Nyetir aja yang bener, kalau jatuh yauda berarti udah naas kita mati berdua, hehe” dia sekarang memejamkan mata dengan santai.
Manusia yang sedang aku bonceng ini diberi nama Mia oleh ibunya. Postur tubuh tidak terlalu tinggi, paras lumayan dengan seluruh alat indera lengkap, dan dengan usia serupa denganku. Sialkulah dipaksa olehnya mengantar pulang saat hujan begini, aku tak bisa apa-apa kalau sudah dia yang berbicara. Tapi entah alasan apa yang membuat dia berdiri dia atas motorku seperti itu, terlihat sangat cantik memang tapi kalau kami berdua jatuh karena tidak seimbang akan terlihat paok juga.
“Jangan berdiri, kamu gak tau aku kesusahan nih? Pake tutup mata segala” aku menegurnya untuk kesekian kali.
“tak apa, menyetirlah dengan benar” jawabnya tetap santai.
“terserah lah, aku gak kuat, yuk minggir kita berteduh”
“ah jadi cowok kok cemen, yaudah di depan ada ruko tuh” tunjuknya padaku.
Setelah kami menepi untuk menghindari hujan, bukannya duduk dia malah berdiri lagi memejamkan mata sambil merentangkan tangannya ke samping kanan dan kiri layaknya akan terbang sama seperti posisinya di atas motor tadi. Aku biarkan saja, dasar gadis aneh kupikir.
“hei, kau tahu? Aku suka bau tanah”
“hah?” aku bingung tentang hal yang dibicarakannya.
“bau tanah akan keluar selama sepuluh menit setelah hujan turun”
“hah?”
“bego mah tetep aja bego, pantesan jomblo. Sepuluh menit awal, saat hujan menghantam bumi, mungkin menyebabkan partikel-partikel kecil yang berasal dari tanah terhempas ke udara dan menimbulkan bau, ku sebut itu bau tanah” dia menjelaskan dengan posisi yang tidak berubah, posisi disalib dengan mata terpejam.
“hah?, bukannya kamu juga jomblo ya?” tukasku tak peduli.
“mau coba? Rasanya menyenangkan”
“coba jadi jomblo? Maaf sudah bosan”
“begonya kambuh, cobain menghirup bau tanah, sini” dia mengajakku mengikutinya melakukan hal aneh.
Aku bangkit dari senderanku di pintu salah satu ruko itu, ku tepuk-tepuk debu dari bagian belakang celanaku dan ku tiru aktivitas absurd-nya. Ku rentangkan tanganku ke samping, ku dongakkan kepalaku ke atas, ku pejamkan mataku sambil tersenyum, mencoba menghirup bau yang disebut bau tanah itu.
“Eh, bau tanah itu mirip bau sampah got ya?”
“Itu sih hidungmu yang berada di dekat mulut. Bau tanahnya sudah habis, sudah sepuluh menit lewat, sini duduk jangan kayak orang bego gitu ah, hehe” kata Mia si kurang ajar.
“dasar cewek aneh, ngapain sih kok senyum-senyum tadi” kataku sambil menuju posisi duduk senderanku.
“aku selalu suka hujan, banyak hal yang jatuh bersama tetes-tetes itu”. “kau tahu re? Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu”.
Aku Cuma bergumam diam.
“dari hujan aku belajar bahasa air bagaimana berkali-kali jatuh tanpa sedikitpun mengeluh pada takdir” katanya dengan lembut. “kami sering sekali bersama saat hujan, Nanda tak pernah langsung pulang kala kami bersama dan tiba-tiba hujan, dia selalu mencari tempat menepi dan melakukan hal seperti tadi, mencium bau hujan”. “dia selalu bilang padaku ini adalah sepuluh menit yang selalu keren”. Sekali lagi kata-katanya di keluarkan dengan jernih.
Mia tersedu.
Dia berkata dengan mendongakkan dagunya kelangit, memjamkan mata, sambil tersenyum.“Hai, Nanda, yang datang tiba-tiba serupa hujan yang terbawa angin, Ini saat dimana kehadiranmu membuatku tersenyum, Imaginasiku terkalahkan dan terseret masuk ke duniamu, Namun aku bahagia, semoga kaupun bahagia ya”
Aku menjadi saksi malam ini, aku hanya diam dan ku biarkan mia berkata sendiri. Aku tak mau mengacaukan hening ini, aku tak berani.
“hei re? Kau masih mendengarkan kan?”
“iya” aku menjawab singkat.
“kau tahu pertigaan jalan susilo itu? Itu tempat favorit kami berteduh menikmati sepuluh menit itu, mencium bau tanah bersama”. “aku tak tahu berapa banyak impian yang dibicarakannya padaku sambil menunggu hujan berhenti, tapi aku selalu suka matanya saat bicara impian”
“Mia”
“ya benar, itu hanya cerita cerita masa lalu, hanya saja di hujan terakhirnya dia tak mengajakku untuk menikmati sepuluh menit itu, ia menikmatinya sendiri”
“Hujan tahu kapan harus membasahi kota ini. Hujan juga tahu kapan harus berhenti” aku memberanikan diri untuk bicara. “Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja”.
“kau benar, aku sedang menunggu pelangi yang tak kunjung muncul,hehe, mari pulang” tukasnya tak ingin berlarut-larut melibatkanku.
Pada akhirnya dia menyeretku ke atas motor sambil tersenyum.


Komentar