SEPULUH MENIT PERTAMA
Tiba-tiba kedua sisi bahuku dipegang dan terasa ditekan padahal aku sedang konsentrasi nyetir sepeda motor, cuaca lagi hujan deras. aku tetap berhati-hati mengendalikan motor ini seraya bertanya dalam hati kenapa rasanya bahuku berat sekali ditekannya. Kalian tahu? Dia berdiri di atas pedal motor sambil memegang bahuku. “lagi apa sih? Nanti kalau aku hilang konsen terus kita jatuh gimana?” tegasku dengan sedikit kesal. “Nyetir aja yang bener, kalau jatuh yauda berarti udah naas kita mati berdua, hehe” dia sekarang memejamkan mata dengan santai. Manusia yang sedang aku bonceng ini diberi nama Mia oleh ibunya. Postur tubuh tidak terlalu tinggi, paras lumayan dengan seluruh alat indera lengkap, dan dengan usia serupa denganku. Sialkulah dipaksa olehnya mengantar pulang saat hujan begini, aku tak bisa apa-apa kalau sudah dia yang berbicara. Tapi entah alasan apa yang membuat dia berdiri dia atas motorku seperti itu, terlihat sangat cantik memang tapi kalau kami berdu...